"Ma, Edmund mau es krim!" Aku dan papanya pun hanya mampu saling menatap. Karena merogoh kantong pun pasti akan sia-sia. Jangan uang kertas, recehan pun gak punya. Ini adalah realita yang kami alami di sepanjang pernikahan kami yang memasuki tahun ke empat. Dan memang di akhir tahun ketiga pun ini sudah dimulai tetapi gak sampai sebegini parahnya. Semuanya disebabkan beberapa hal yang dari awal gak di antisipasi. Kami memang gak pernah merencanakan atau mengatur tentang keuangan. Karena dari awal pernikahan kami berdua sama-sama termasuk mapan dalam hal keuangan. Aku sendiri gak pernah mewajibkan suami untuk memberi jatah perbulan, karena gajiku pun cukup dan berlebih untuk biaya rumah tangga selama satu bulan *SOMBONG hahahaha Tapi demikian kenyataannya. Si suami berkewajiban untuk bayar tagihan, misal kredit motor, tv berlangganan, dan sebagainya. Kami gak pernah menyiapkan dana emergency, karena asuransi pun sudah disediakan oleh perusahaan yang plafonnya ...
seperti yang sudah-sudah, pertengkaran terjadi lagi dan sebabnya yang itu-itu lagi. yang dibahas masalah yang sama. yang selalu tidak menemukan titik akhir atau solusi terbaik. hanya ada adu argument tanpa tau apa jalan keluarnya. yang selalu sama-sama menyalahkan satu sama lain. dan berujung dengan bentakan-bentakan. hanya itu. layakkah kau kusebut pria dewasa? layakkah kuserahkan hidupku ini di tanganmu? pantaskah aku menjadikanmu imam serta panutanku dan anak-anak? aku sudah kehilangan kepercayaanku padamu sejak lama. jangan paksa lagi aku untuk menghilangkan semua perasaanku yang masih bertahan hingga detik ini. aku sudah kelelahan mengikuti caramu hidup. aku sudah lelah harus mengawasi tindak tandukmu yang tidak lebih dari anak remaja di zaman ini. aku sudah terlalu lelah untuk selalu mengalah. aku sudah muak mendiamkan semua yang seharusnya kuteriakkan ke wajahmu. aku semakin lelah berada di sebelahmu. aku semakin lelah hidup den...
Komentar
Posting Komentar