Jangan bawa lagi kata “seandainya” atau “kalau”. Itu hanya seperti meneteskan campuran garam dan perasan asam ke sebuah luka. Yang menyisakan perih luar biasa karena beribu kata “seandainya” tak mengubah keadaan sedikitpun. Bisakah kita hanya diam dan saling menggenggam? Bisakah kita hanya saling memandang lalu berpelukan? picture from here
Gak berasa udah 24 tahun aja hidup :) Sapa yang ngangka di umur segini udah punya kluarga kecil? Bersyukur tak terhingga kepada Allah SWT yang selalu menyiap kan skenario besar untuk hidup ku. Mulai dari pahit, manis, hambar, indah, gelap, temaram menyatu dalam keseharian selama 24 tahun. Gak ada perayaan special, sepotong kue, kado, pelukan hangat, genggaman tangan, atau pun ucapan selamat tepat jam 00.00. Ya..smua itu tlah berlalu. Berlalu di 23 tahun kemaren.. Mungkin aku yang belum terlalu dewasa, karna aku kangen hal2 seperti itu. Kangen di manja walo pun umur sedikit gak pantes lagi manja2 :) Tapi ini lah AKU, dengan segala keterbatasan ku memahami bentuk cintakasih yang gak pernah ku temukan. Dan aku harus menghindar untuk mengeluh, Allah udah terlalu baik ke aku. Hari ini ku habis kan untuk memilah apa yang harus ku bawa ke depan mana yang harus ku tinggal kan d belakang sana dan di akhiri dengan bersyukur :) HAPPY BIRTHDAY TO ME ^_^ ^_^ "All...
"Ma, Edmund mau es krim!" Aku dan papanya pun hanya mampu saling menatap. Karena merogoh kantong pun pasti akan sia-sia. Jangan uang kertas, recehan pun gak punya. Ini adalah realita yang kami alami di sepanjang pernikahan kami yang memasuki tahun ke empat. Dan memang di akhir tahun ketiga pun ini sudah dimulai tetapi gak sampai sebegini parahnya. Semuanya disebabkan beberapa hal yang dari awal gak di antisipasi. Kami memang gak pernah merencanakan atau mengatur tentang keuangan. Karena dari awal pernikahan kami berdua sama-sama termasuk mapan dalam hal keuangan. Aku sendiri gak pernah mewajibkan suami untuk memberi jatah perbulan, karena gajiku pun cukup dan berlebih untuk biaya rumah tangga selama satu bulan *SOMBONG hahahaha Tapi demikian kenyataannya. Si suami berkewajiban untuk bayar tagihan, misal kredit motor, tv berlangganan, dan sebagainya. Kami gak pernah menyiapkan dana emergency, karena asuransi pun sudah disediakan oleh perusahaan yang plafonnya ...
Komentar
Posting Komentar